Pengaruh Intervensi Susu Kedelai yang Difortifikasi Bubuk Daun Kelor terhadap Peningkatan Status Gizi Balita

Latar Belakang: Status wasting dan stunting pada anak berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembngan. Upaya dalam meningkatkan status gizi balita salah satunya melalui pemberian makanan tambahan (PMT).  Peningkatan alergi susu sapi dan preferensi diet vegetarian mendorong konsumen menuju susu kedela...

Ausführliche Beschreibung

Gespeichert in:
Bibliographische Detailangaben
Veröffentlicht in:Amerta nutrition 2023-06, Vol.7 (2), p.210-216
Hauptverfasser: Nur Chabibah, Milatun Khanifah, Pujiati Setyaningsih
Format: Artikel
Sprache:eng
Schlagworte:
Online-Zugang:Volltext
Tags: Tag hinzufügen
Keine Tags, Fügen Sie den ersten Tag hinzu!
Beschreibung
Zusammenfassung:Latar Belakang: Status wasting dan stunting pada anak berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembngan. Upaya dalam meningkatkan status gizi balita salah satunya melalui pemberian makanan tambahan (PMT).  Peningkatan alergi susu sapi dan preferensi diet vegetarian mendorong konsumen menuju susu kedelai. Selain itu, pemberian susu kedelai secara signifikan meningkatkan berat badan dan panjang badan pada bayi normal. Peningkatan nilai gizi susu kedelai dapat ditingkatkan dengan daun yang kaya gizi yakni daun kelor. Daun Kelor telah terbukti meningkatkan status gizi balita  dengan status gizi buruk. Tujuan: Mengetahui pengaruh intervensi susu kedelai yang difortifikasi bubuk daun kelor terhadap  balita dengan status gizi kurang dan buruk melalui indikator berat badan, tinggi badan dan status gizi balita (parameter berat badan/umur, tinggi badan/umur dan berat badan/tinggi badan). Metode: Design penelitian menggunakan rancangan quasi-eksperiment melalui pendekatan pre-test dan post-test control design group. Teknik sampling menggunakan total sampling  dengan besar sampel 15 balita pada kelompok intervensi dan 15 balita pada kelompok kontrol. Intervensi berupa edukasi dengan booklet gizi balita, 3 keping biskuit dan pemberian 100 cc susu kedelai yang sudah difortifikasi dengan 0,32 mg. Kelompok kontrol  diberikan edukasi dan 3 keping biskuit melalui kelas balita. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama dua bulan bertutut-turut yang diberikan semiggu tiga sampai empat kali. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada  selisih rerata Berat Badan (BB) kedua kelompok (p-value: 0,001 CI:-0,911-(-0,245)). Tetapi selisih rerata Tinggi Badan (TB) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p-value; 0,157; CI 2,244 – 0,38)). Terdapat peningkatan status gizi (indeks BB/TB) yang bermakna pada kelompok intervensi (p-value: 0,009 CI: (-1,159 – (-0,174)). Kesimpulan: Fortifikasi bubuk kelor dalam susu kedelai berpengaruh terhadap berat badan dan status gizi balita berdasarkan indeks berat badan/umur (BB/U) dan berat badan/tinggi badan (BB/TB).
ISSN:2580-1163
2580-9776
DOI:10.20473/amnt.v7i2.2023.210-216