Living museum sebagai sumber pembelajaran Sejarah (comparative studies in Bali and West Java)

Artikel ini ditulis berdasarkan kajian pustaka berbasis Sejarah dan studi lapangan dengan metode etnografi mengenai museum hidup (living museum) dan potensi penggunaannya secara pedagogis dalam pembelajaran Sejarah. Artikel ini merupakan kolaborasi dua peneliti dari daerah berbeda, yaitu Bali dan Ja...

Ausführliche Beschreibung

Gespeichert in:
Bibliographische Detailangaben
Veröffentlicht in:Jurnal teori dan praksis pembelajaran IPS (Online) 2022-05, Vol.7 (1), p.42-58
Hauptverfasser: Supriatna, Nana, Pageh, I Made
Format: Artikel
Sprache:eng ; ind
Schlagworte:
Online-Zugang:Volltext
Tags: Tag hinzufügen
Keine Tags, Fügen Sie den ersten Tag hinzu!
Beschreibung
Zusammenfassung:Artikel ini ditulis berdasarkan kajian pustaka berbasis Sejarah dan studi lapangan dengan metode etnografi mengenai museum hidup (living museum) dan potensi penggunaannya secara pedagogis dalam pembelajaran Sejarah. Artikel ini merupakan kolaborasi dua peneliti dari daerah berbeda, yaitu Bali dan Jawa Barat dengan fokus kajian pada kedua daerah tersebut. Kedua daerah ini memiliki karakteristik budaya dan pengalaman historis berbeda. Akan tetapi, keduanya memiliki persamaan yaitu warisan pengalaman masa lalu berbentuk artefak dan tradisi yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Artefak yang tampak tidak hanya berbentuk benda fisik yang tersimpan di museum melainkan juga berbentuk nilai-nilai yang kini dirawat, dilestarikan dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian, nilai-nilai tradisional yang diklaim menggambarkan keaslian budaya lokal tersebut tidak selalu menggambarkan keasliannya. Hal ini karena faktor interaksi budaya selain faktor hegemoni warisan zaman kolonial yang terus berlangsung hingga sekarang. Dalam perspektif pos-kolonial, upacara adat, dan relief pura di Bali sudah mengalami hibridisasi. Demikian juga tradisi mengolah dan mengonsumsi pangan lokal di Jawa Barat mengalami mimikri berupa peniruan terhadap simbol-simbol budaya dari luar. Nilai-nilai hidup itulah -sekalipun merupakan bentuk percampuran budaya- dalam penelitian ini disebut sebagai living museum. Secara pedagogis, kedua peneliti menawarkan nilai-nilai tersebut untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran Sejarah di sekolah. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa cinta pada budaya lokal dan budaya bangsa sekaligus menumbuhkan kesadaran sejarah kritis.
ISSN:2503-1201
2503-5347
DOI:10.17977/um022v7i22022p42